Maka di ruang-ruang kelas yang sempit, atau di bawah pohon rindang di lapangan, terjadi dialog bisu yang hebat: saling memberi, saling mengoreksi, saling membebaskan.
Murid datang dengan mata bertanya, dengan hati yang masih meraba-raba. Ia bukan bejana kosong yang pasif, tapi api kecil yang menunggu ditiup, bukan tanah liat yang lunak, tapi benih yang membawa dunia di dalamnya. guru dan murid
Guru belajar dari tatapan murid, dari keberaniannya bertanya, dari kegagalan yang tak malu diakui. Murid belajar dari ketekunan guru, dari cara ia tak lelah mengulang, dari keikhlasan yang tak tercatat di rapor. Maka di ruang-ruang kelas yang sempit, atau di
Dalam setiap lembar waktu yang terukir, Guru berdiri di pangkal jalan, menunjuk arah dengan sabar, meski kadang langkah murid terhuyung, ragu, atau bahkan berbalik. Maka hormatilah guru
Maka hormatilah guru, tapi jangan pernah menjadikannya patung. Sayangilah murid, tapi jangan pernah membatasinya dengan tembok kasih.
Karena pendidikan sejati bukanlah memindahkan air dari sungai ke kolam, tapi mengajarkan bagaimana menemukan mata air sendiri, lalu memilih kapan harus minum, dan kapan harus berbagi pada yang kehausan.